Makhluk Bermata Satu

Di tengah keramaian, Inna merasa seseorang memperhatikannya dari kejauhan. Khimar* panjangnya ia gunakan untuk menutupi setengah wajahnya, namun semakin lama orang itu terasa semakin mendekat. Inna menoleh pada sahabatnya Farah, tapi wanita itu terlihat tenang-tenang saja bermain dengan gadgetnya. Apa hanya dia yang merasakan keanehan disini?
Orang tersebut kini mengikutinya. Meski tidak dekat tapi Inna bisa merasakan hawa kehadirannya yang berada beberapa meter dari tempatnya berpijak. Laki-laki misterius itu berpakaian serba hitam mulai dari celana, kemeja, topi bahkan ia mengenakan masker bewarna hitam. Merasa takut, Inna berlari kecil meninggalkan Farah yang sedang kebingungan di belakang sana. Dia tidak punya waktu untuk menjelaskan, karena ia sendiri juga bingung dengan apa yang sedang terjadi. Ternyata benar, sesuai feelingnya orang itu ikut berlari mengikutinya tapi untung saja Inna bisa dengan cepat menaiki lift dan menuju lantai bawah.
Namun belum sempat ia memasuki pintu keluar, seorang lelaki tak dikenal memegang tangannya dan menodongkan pistol ke kepalanya. Inna terkejut. Apakah ini perampokan? Tapi kenapa disini? Pusat perbelanjaan ini sangat ramai dipenuhi oleh pengunjung. Perampok ini bisa saja tertangkap dengan mudah dan menjadi korban amukan masa. Dan benar saja, beberapa menit kemudian para pengunjung sudah mulai mendekat dan memanggil aparat keamanan untuk menangkap orang misterius itu. Namun semuanya bergemuruh takut saat belasan bahkan puluhan orang memakai baju serba hitam datang dari seluruh penjuru Mall. Orang-orang itu berseru dengan bahasa yang tidak dimengerti, dan kemudian mereka menembakkan pistol ke udara. Ada apa ini? Kenapa suasananya sangat mencekam? Pengunjung yang lain terdiam tak berani berkutik seolah telah dikutuk menjadi patung. Begitu juga dengan Farah, kakinya melemas setelah mendapati Inna menjadi sandera orang-orang itu. Farah menangis. Ia tak bisa berhenti memikirkan bagaimana nasibnya dan nasib sahabatnya itu sekarang. Sedangkan Inna? Tangannya bergetar. Pipinya sudah penuh dibasahi dengan air mata.
“Ya Allah tolong kami! Tolong kami…” Batin Inna. Ia sudah pasrah, lantunan dzikir tak pernah lepas dari mulutnya.
“Ikuti perintahku!” Salah seorang diantara ‘pasukan hitam’ mulai bicara.
“KATAKAN BAHWA KAU MURTAD!!” Orang itu mendekati Inna dan menodongkan pistol yang lebih panjang pada wanita itu.
Inna menggeleng. tentu saja. Siapa orang ini yang berani mengatakan hal seperti itu pada muslimah seperti dirinya?! Ia tak tahan! Dadanya sesak tak menerima perlakuan konyol ini. Ia ingin melawan, namun tekadnya sudah terlebih dulu dilumpuhkan oleh dua ujung pistol yang bertengger di kepalanya. Jika salah bertindak ia bisa saja mati dalam hitungan detik.
“ikuti perkataanku. ‘AKU MURTAD’!” Ulang orang itu dengan suara yang ditinggikan.
Inna kembali menggeleng. Air matanya menyertai rasa takutnya. Isakannya terdengar bersama dengan gemuruh suara tawanan yang lain.
“aku akan membunuhmu jika tidak mengikuti perintahku!” ancam orang itu.
“T-tidak. AKU MUSLIM! Dan selamanya akan tetap begitu!” Inna akhirnya bersuara. Ia menyuarakan imannya. Sebesar apapun ancaman itu ia tidak akan pernah keluar dari keyakinannya.
“katakan AKU MURTAD atau aku akan membunuhmu!”
“AKU MUSLIM!! Laa ila ha illa-”
DOOORR!! Peluru itu menembus kepalanya. Semua tersentak, begitu juga dengan Farah yang langsung berlari menuju Inna. Kini darah wanita itu mengalir di atas putihnya lantai. Rintihan suara tangisan beserta ketakutan mengiringi kepergiannya.
Di sela akhir nafasnya, ia melanjutkan kalimat tauhid*nya. Salah seorang syuhada’* kini telah pergi dan menghadap kepada-Nya. Menjadi orang pertama yang mati di tangan mahkluk kafir yang melegenda itu.
***
Peristiwa itu menjadi pelopor dimulainya era baru. Era dimana seluruh umat islam perang melawan keyakinannya sendiri. Siapa yang teguh imannya, maka surga menantinya. Dan barang siapa yang ragu, maka ‘dia’  menunggunya.

Komentar

Postingan Populer