Si U'us Takut Tikus

Pagi itu seperti biasa keadaan kelas ricuh dan berantakan sebelum pelajaran dimulai. Mamat sang ketua kelas turut berpatisipasi dalam keributan tersebut. Hingga ia tak sadar jika seorang wanita paruh baya telah berdiri di ambang pintu dengan wajah masam.
“Si-siaap beri salam!” ucapnya gelagapan sembari terkejut. Seluruh siswa kemudian berdiri dan berjejer rapi memberi salam.
Wanita paruh baya itu terdiam mengamati semua muridnya. Yang ada ia hanya melihat cengiran dari wajah-wajah polos itu. Ia terkekeh, anak-anak ini sering kali membuatnya kesal sekaligus gemas.
“Ayo kumpulkan tugas kalian!”
Mereka pun dengan cepat mengambil selembar kertas yang telah disiapkan beberapa menit sebelumnya dan mengumpulkannya dengan wajah penuh semangat. Karena bu guru sebelumnya berjanji akan memberi hadiah untuk siswa yang nilai tugasnya tertinggi. Tugas mereka sangatlah sederhana. Yakni menggambar hewan, manusia, atau apapun itu yang sangat ditakuti dan kemudian menjelaskan alasannya menakuti hal tersebut di depan kelas.
Bu guru tersenyum hendak tertawa saat melihat tugas U’us. Ia tak menyangka jika anak itu akan takut dengan hal semacam ini.
“U’us, sini kamu!” perintah bu guru. U’us mematuhinya dan melangkah ke depan meja guru dengan bangga.
“Coba jelaskan kenapa kamu takut sama tikus!”
Seluruh kelas tertawa. Mereka tak menyangka jika U’us yang memiliki badan paling besar nan tinggi itu takut dengan hewan kecil seperti itu. Tikus?
“Hei, Us! Macam mana kau ini! malulah kau sama badanmu yang sebesar gentong itu!” Ledek Tagor dengan tawa yang ditahan.
“Iya, Us. Kau seperti Neni saja. Atau jangan-jangan kau sering main masak-masakan sama dia? Hahaha” Sambung Ucung.
Neni adalah siswi yang memiliki badan kecil dengan rambut kuda, kemana-mana selalu bawa boneka, dan paling takut dengan hewan sekelas ulat, tikus dan yang lainnya.
“Sudah-sudah tenang semuanya tenang. Mari kita dengarkan penjelasan nak U’us dulu. Nah U’us, coba sekarang jabarkan alasanmu takut dengan tikus.” Ucap bu guru membuat kelas menjadi tenang dan sepi.
U’us menarik napas dalam. Santai. Tak memperdulikan pandangan teman-temannya yang matian-matian meledeknya di depan sana.
“Saya takut sama tikus bu guru, takuuutt banget. Apalagi kalo saya lagi enak-enaknya tidur terus tiba-tiba saya merasakan kehadiran tikus yang merayap pelan di atas kepala saya, itu rasanya suka bikin jantungan.” Jelas U’us dengan memegang dadanya sembari memperagakan ekspresi orang jantungan. Kelas kembali riuh tertawa dibuatnya.
“Tapi saya lebih takut sama tikus yang berada di Jakarta sana bu guru. Tikus-tikus yang berdandan rapi, memakai dasi, naik lamborgini, tapi pada akhirnya makan uang korupsi. Lah gimana saya nggak takut bu guru? wong uang Negara kita habis buat mereka pakai berfoya-foya.”

Komentar

Postingan Populer