Bukan Pengurus Biasa


      Matahari telah sepenuhnya terbenam di ufuk barat ketika ribuan santri dan santriwati memasuki pelataran masjid Al-Abror. Kicauan burung yang  beradu pulang ke sarang masing-masing menemani alunan adzan yang terdengar khidmat dari toa tua.
      Setelah selesai melaksanakan shalat sunnah rawatib dan wajib maghrib, semua santri diharuskan untuk tetap tinggal di masjid utama tanpa terkecuali. Malam ini adalah lailatul hisab-malam perhitungan, yaitu kegiatan yang biasa diadakan satu kali seminggu tepatnya pada malam senin, untuk merevisi dan mereview kembali kesalahan santri selama satu minggu terakhir.
“Jadi semua ini adalah laporan yang ustadz dapatkan dari seluruh santri. Untuk yang ustadz sebutkan namanya, silahkan mengambil tempat di depan dan menghadap ke jamaah.” Begitu seru ustadz Yusuf setelah sebelumnya mengawali acara dengan do’a bersama.
      Sudah menjadi tradisi bagi kami di mana para santri mengadukan kesalahan santri lain melalui surat laporan. Ini bukan bermaksud sebagai ajang adu-mengadu, melainkan sebagai sarana untuk melatih kejujuran dan memperbaiki diri. Setelah itu laporan yang telah diterima akan dibacakan oleh ustadz di depan jamaah ba’da sholat maghrib kemudian yang bersangkutan diharuskan untuk maju ke depan dan mempertanggung jawabkan kesalahannya. Namun untuk malam ini laporan yang ada di tangan ustadz lebih banyak dari malam-malam sebelumnya. Aku menelan ludah, semoga malam ini tidak menjadi malam yang panjang dengan tanpa masalah apapun.
“Baik, jadi semua masalah malam ini telah terselesaikan. Namun ustadz harap sekecil apapun kesalahan itu jangan sampai menjadi hal yang sepele di mata kalian. Ingat, kesalahan-kesalahan kecil yang selalu bertumpuk lama-kelamaan juga akan menjadi masalah besar.”
      Fyuuh aku bernafas lega. Setidaknya tak ada masalah serius kali ini, pikirku.
“Tapi…” Kalimat menggantung ustadz Yusuf membuat pandangan semua santri kembali fokus ke depan.
“Ada satu surat laporan lagi yang sebenarnya masih jadi pertimbangan ustadz. Kami dewan asatidz dan asatidzah masih memikirkan apakah harus diselesaikan di sini atau menjadi urusan DPS (Dewan Pendisiplinan Santri).”
      Aku menatap ustadz dengan penuh tanda tanya, begitu juga dengan yang lain.     
“Selesaikan di sini saja ustadz, biar santri yang lain juga tahu.” Timpal ustadzah Dewi dengan nada dingin.
      Ustadz mengangguk kemudian membuka surat laporan. Setelah itu ia menghadap ke bagian kanan-tempat di mana para santriwati duduk mendengarkan. Sorot matanya kemudian diarahkan kepada seorang gadis yang sedari tadi menunduk diam.
“As-Syifa Qolbi, ustadz persilakan maju ke depan.”
***
      As-Syifa Qolbi atau yang kerap disapa Syifa adalah anak bungsu Abah-panggilan kepada pimpinan pesantren-yang terkenal dengan keelokan paras dan suara merdunya ketika melantunkan ayat suci Al-Quran. Selain itu ia juga menjabat sebagai bendahara asrama, karena dinilai memiliki sifat amanah oleh ustadz dan para santri.
      Dia seperti pantulan dari cermin kesempurnaan, tutur kata dan akhlaknya yang baik turut melengkapi dan tak pernah memberi celah atas dirinya. Untuk itu tak heran jika semua santri melongo ketika namanya disebutkan. Bagaimana bisa gadis sebaik Syifa membuat masalah? Apakah mindset kita terhadap dia selama ini salah? Begitu kira-kira pertanyaan yang ada di benak kami semua.
      Terlepas dari itu, Syifa yang sekarang tengah berada di depan terlihat begitu ketakutan dengan air mata yang tak henti-hentinya menetes dari kedua sudut matanya. Ia seperti anak kucing yang berada di tengah kepungan singa. Pasrah dan lemah.
      Kemudian satu kalimat dari ustadz membuat semuanya menjadi jelas. Namun, belum terang.
“Jadi seperti yang kamu tulis di surat laporan, berapa jumlah uang asrama yang hilang?”
      Semua ternganga. Begitu juga dengan aku yang notabenenya sebagai pengurus namun baru tahu hal ini sekarang. Aku melihat ke depan ke tempat para pengurus yang lain berkumpul. Mereka juga terlihat sama terpukulnya, terlebih lagi Rantih sebagai ketua.
      Rasanya semua terlihat samar dan buram. Suara santri dan santriwati yang berbisik satu sama lain tak ubahnya seperti dengungan lebah di ruang tertutup. Kepalaku pusing, penglihatanku semakin memudar. Aku tahu berapa jumlah uang itu-uang hasil imtaq seluruh santriwati bulan ini. Dan jumlahnya tidaklah sedikit bagi kami yang masih berstatus sebagi pelajar. Terbilang sangat banyak, Rp.12.000.000.
***
      Hiruk pikuk masih terdengar sampai ustadz terpaksa memukul mimbar dengan rotan untuk menarik perhatian semua santri. Seluruh pengurus juga dipersilakan untuk maju ke depan, terkecuali aku yang berada di shaf paling belakang karena terlambat datang.
“Kapan dan di mana terakhir kali kamu melihat uang itu?” Tanya ustadz Yusuf, mulai mengintrogasi.
“Tadi pagi, di lemari pakaian.” Jawab Syifa pelan.
“Dan hilangnya?”
“Tadi sore, ketika saya hendak mengantar hasil imtaq bulan ini ke bendahara yayasan, u-ustadz.” Jawab Syifa dengan suara tercekat.
“Baik. ustadz sudah tanya berapa, kapan, dan di mana uang tersebut hilang. Sekarang ustadz tanya, siapa yang Syifa tahu terakhir kali berada di kamar asrama pengurus? Ini bukan bermaksud su’udzan, namun siapa tahu ia adalah saksi dalam kasus ini.” ucap ustadz kembali.
      Kemudian pandangan semua pengurus mengarah padaku, seolah menyerbu dengan tatapan dingin dan kosong.
      Aku tergagap. Mengapa aku? “Biasanya Hana yang sering telat dan terakhir kali di kamar, ustadz. Hanansyia Nurdina.” Kata Rantih.
      Aku mencoba untuk sesantai mungkin. Namun tetap saja tak bisa. Semua orang kini mengalihkan peratiannya padaku. Bahkan santri putra tak segan-segan membuka mihrab (penghalang) hanya untuk melihat siapa itu Hanansyia Nurdina yang sekarang resmi menjadi terdakwa pertama dalam kasus ini.
      Baiklah, mungkin seperti kata ustadz tadi pertanyaan tersebut tidaklah mengandung unsur su’udzan. Namun pasti saja, di antara ribuan santri ini pasti sebagian dari mereka mengira bahwa akulah pelakunya. Sebagian besar lebih tepatnya.
      Sebelum ustadz kembali mengangkat microphone untuk berbicara, adzan isya sudah terdengar dari masjid desa. Aku kembali terdiam. Itu menandakan acara lailatul hisab minggu ini berhenti sampai di sini, tepatnya sampai satu minggu ke depan. Menyisakan aku dan sejuta prasangka buruk yang mungkin mengarah padaku.
***
       Sekumpulan awan hitam menggantung di langit sehingga menyisakan lukisan alam yang kelam. Rintik rinai hujan mulai membasahi atap asrama, sebagian santriwati terlihat berlomba-lomba menuju tempat penjemuruan untuk menyelamatkan aset  mereka masing-masing.
      Udara sore ini sangat dingin ketika angin juga turut hadir meramaikan suasana yang mencekam. Begitu pula dengan suasana di dalam ruangan ini. sudah 20 menit berlalu ketika rapat dmulai, dan selama itu pula belum ada yang bersuara. Aku menarik nafas dalam dan mulai membuka percakapan.
“Ran… bukan aku.”
“Iya, aku tahu Hana. Aku percaya kalian semua. Saat pelantikan dulu, saat hari pertama menjadi pengurus, kita sudah bersumpah untuk memegang amanah sebaik mungkin. Hanya saja tadi malam ustadz membutuhkan saksi di TKP.” Jawab Rantih tegas.
      Aku memilih untuk diam tak menjawab perkataan Rantih. Padahal ada segerombolan kosakata dalam otak ini yang siap untuk meluncur bak roket hendak lepas landas. Namun untuk menjaga ketenangan suasana dan menghormati Syifa yang tengah terbaring lemas di atas kasur sana, aku diam saja.
      Namun merasa hal itu tak adil, Dwina kemudian angkat bicara membelaku dan menyalahkan Sulis yang saat itu juga tengah berada di kamar pengurus, meskipun sedang sakit. Juga Aisyah yang menaruh curiga pada Dita yang tengah berada di teras kamar karena sedang berhalangan.
      Suasana seketika berubah menjadi semakin tegang. Beberapa pengurus mencoba untuk menenangkan Sulis, Dwina, Aisyah dan Dita. Meski tidak sampai menciptakan aksi tonjok-tonjokkan namun terasa betul hawa panas dari masing-masing pihak.
***
      Di ruangan yang berukuran kurang lebih 20x10 meter ini ratusan santriwati tengah duduk bersila sembari berhadapan untuk bersiap-siap menyantap hidangan. Tak ada meja panjang ataupun kursi besi, semua santri selalu diajarkan untuk hidup sesederhana mungkin. Alat makannya pun begitu, menggunakan piring besi dan tanpa sendok. Untuk lauk pauknya, hanya lauk pauk sederhana. Namun untuk hari senin dan kamis lauk pauk berubah menjadi lebih bervariasi karena selama seharian penuh semua santri menjalani puasa sunnah.
      Ketika air minum dibagikan dan semua sudah mendapat jatahnya, terdengar desas desus keluhan dari seluruh santriwati. Aku yang mulanya heran tak mengerti sekarang mulai memahami situasinya. Lauk pauk kami, ya, tak ada perbedaan dengan lauk pauk seperti pada hari-hari biasanya. Takjil juga nihil. Pantas saja jika semuanya mengeluh karena apa yang diharap-harapkan tak sesuai kenyataan.
     Kemudian suara ketukan dari arah dapur menyita perhatian kami.
“Pesan dari ustadzah, lauk pauk dan makanan kita akan terus seperti ini sampai Dewan Pengurus Aspuri mencari atau mengganti uang asrama yang hilang!” suara Anin lantang mengisi keheningan. Ia adalah pengurus bagian konsumsi yang kemudian beranjak pergi dari tempatnya dengan muka masam.
      Ruangan kembali menjadi bising dan kami-semua pengurus-yang tengah berada di bagian paling pojok kantin sukses menjadi bahan pembicaraan.
***
      Tempias hujan semakin memasuki teras gedung Tahfizhul Quran. Angin yang kencang kembali menemani butiran-butiran air itu laksana dayang menemani tuan putrinya.
      Sekarang adalah musim penghujan, namun hal itu tidak menjadi penghalang untuk melakukan rutinitas pondok seperti biasa. Rutinitas yang tak memiliki jeda dari pukul 03.30 pagi sampai 23.00 malam. Aku termenung. Bagaimana bisa kami mencari uang sebesar Rp.12.000.000 dengan jadwal tersebut? Bekerja? Dalam waktu seminggu?
      Aku kemudian membuang nafas panjang. Astagfirullahal’adzim, semua pasti ada jalannya. Pasti.
      Aku kembali membuka mushaf untuk melanjutkan hafalan. Namun baru saja dapat satu ayat, sebuah suara familiar menyebut namaku dari arah belakang.
“Han! Han!!,” teriak Anin dengan suara khasnya, cempreng.
“Iya Nin? Kenapa?”
“A-aku tahu caranya dapetin uang Rp.12.000.000 dalam waktu seminggu!” ucapnya keras.
      Aku melotot. Bagaimana bisa? Pekerjaan seperti apa itu? atau jangan-jangan…
“Wush! Kamu jangan mikir macam-macam ya. Ini nih liat.” Sergahnya sembari memberiku sebuah potongan koran yang sudah lusuh dan basah karena hujan.
“Aku dapet itu dari bungkus nasinya Bik Munah (Ibu dapur). Gimana menurut kamu?” Tanyanya dengan wajah berbinar. Seakan menantikan sebuah pengumuman undian yang sudah ia tahu bahwa ia pemenangnya.
“Ikut lomba buat film pendek? Dalam satu minggu? Lagian ini pengumuman satu bulan yang lalu, Nin! Mana deadlinenya 05 November lagi. Itu empat hari lagi!” bantahku dengan cepat. Ini ide bagus tapi lebih ke mustahil.
“Yeah… coba aja dulu.”
      Seketika wajahnya berubah menjadi lesu. Semangat 45 yang beberapa menit lalu ia tunjukkan berubah derastis menjadi nol. Tiba-tiba aku merasa sedikit bersalah karena membuat Anin menjadi seperti ini. Anin adalah tipe anak periang dan polos, sehingga perasaannya sangat jelas bisa ditebak dari raut wajahnya.
“Tapi, bener juga sih. Yuk kita coba tanya yang lain!” ajakku sembari merangkulnya. Dan benar saja, wajahnya kembali berubah menjadi cerah mengalahkan cuaca pada sore hari ini.
      Setelah itu aku bersama Anin menghampiri pengurus yang lain dan mengutarakan ide Anin tersebut. Tentu saja reaksi mereka sama sepertiku, namun Anin dengan sifat husnudzannya yang berlebihan menjadi sedikit meyakinkan para pengurus.
      Aku membantunya dengan menawarkan diri sebagai kameramen dan editor, walau satu detik setelah itu aku menyesali perkataanku sendiri. Owalaah.. dapet kamera sama laptopnya di mana? Batinku.
      Namun sekali lagi berkat bujukan ampuh dari Anin semua pengurus setuju untuk mengikuti lomba tersebut. Untuk masalah peminjaman perlengkapan, kami memutuskan untuk meminjam di tempat rental, tentunya dengan menyisihkan uang bulanan. Setelah itu alur cerita mulai dari penokohan, setting, dan skenario segera diputuskan dalam rapat mendadak. Dan untuk waktu pembuatannya, jangan ditanya. Kami mencuri-curi waktu kosong dalam setiap jam pelajaran, entah itu pelajaran formal maupun non-formal. Tentunya dengan tanpa sepengetahuan dewan asatidz asatidzah.
      Akhirnya setelah menguras banyak tenaga dan mengulang pengambilan adegan puluhan kali, film pendek dengan tema Hari Santri pun telah jadi dan sudah terkirim ke panitia. Sekarang tinggal menunggu hasil akhir yang di mana merupakan harapan terakhir kami. Dan beruntungnya, hasil akhir lomba tersebut akan diumumkan hari ahad, lusa, tepatnya sebelum lailatul hisab. Jika berhasil maka terselesai sudah masalah kami. Namun jika tidak, wallahua’lam.
      Untuk itu pada malam sabtu dan ahadnya, segenap dewan pengurus mengerjakan sholat malam dengan rakaat yang lebih banyak dari biasanya. Ini merupakan harapan terakhir kami. Benar-benar yang terakhir. Seluruh air mata dan curahan tumpah di atas sajadah bersama setumpuk harapan. Jika sudah ikhtiar, do’a, dan tawakkal, maka apalagi? Tinggal berhusnudzan dan menunggu hasil ketetapan dari-Nya.
***
      Allah memang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Maha Pengabul segala do’a dan Maha Pemurah bagi mereka yang taat. Setelah melewati dua hari dengan penuh rasa gugup, akhirnya tiba saat di mana penjaga asrama mengetok pintu kamar pengurus untuk mengantarkan surat pengumuman. Dan betapa terkejutnya kami ketika dalam surat tersebut terketik dengan jelas, bahwa kami resmi menyandang gelar juara ke-3. Meskipun tidak menjadi yang pertama, namun hadiahnya berupa uang Rp.15.000.000! Lebih dari cukup untuk mengganti uang yang hilang tersebut. Dan sisanya, akan kami sumbangkan sesuai dengan nadzar sebelumnya. Adapun uang tersebut akan diserahkan beserta sertifikat penghargaan pada acara peringatan hari santri yan memang sengaja terlambat dilaksanakan oleh pihak panitia lomba pada tanggal 10 November mendatang.
***
      Saat yang dinanti-nantipun telah tiba. Ba’da sholat maghrib, semua Dewan Pengurus Aspuri berada di shaf paling depan, tentu saja aku juga. Ketika ustadz memasuki ruangan dan menuju mimbar, kami sudah menyambut dengan senyum lebar yang sedari tadi siang belum luntur sedikitpun. Ustadz pun heran dibuatnya.
      Kemudian Rantih maju ke depan setelah namanya disebutkan sebagai perwakilan atas pertanggung jawaban masalah yang sebelumnya. Amplop yang berisi surat berharga itu telah diserahkan. Kami mengeluarkan nafas lega, benar-benar lega. Namun melihat ustadz Yusuf yang cekikan membuat kami memandang satu sama lain. Bukannya reaksi yang seharusnya ditunjukkan ialah reaksi terkejut? Atau tak percaya? Atau bengong? Tapi reaksinya menunjukkan reaksi seseorang yang…
“Ustadz pribadi sangat terkejut dan senang membaca surat pengumuman ini. Selamat nak, selamat kepada kalian pengurus asrama putri yang telah menjadi juara ke-tiga dalam Lomba Pembuatan Film Pendek.” Ucap ustadz Yusuf yang kemudian disambut dengan tepuk tangan riuh. Kami merona malu dibuatnya.
“Namun… sebenarnya, masalah hilangnya uang asrama kemarin hanya settingan kami belaka.” Dan ucapan ustadz kali ini membuat  semua santri membisu, bingung.
“Jadi, ustadz sama Ustadzah Dewi sengaja buat isu kalo uang asrama banat hilang. Tentunya ini bukan bermaksud untuk membohongi kalian seutuhnya. Tidak, kami semata-mata ingin melatih dan menguji sejauh mana kekompakan dan kerja sama kalian. Dan syukur Alhamdulillah, hasilnya sangat lebih dari yang diharapkan. Kalian mampu menyatukan setiap perbedaan pendapat, mengalahkan masing-masing ego, dan mencari solusi atas suatu permasalahan dengan sangat cepat. Usaha, do’a, dan tawakkal kalian telah mencerminkan sifat seorang hamba yang sebenarnya. Ustadz pribadi merasa sangat bangga telah memilih kalian menjadi pondasi asrama ini. Karena jika akarnya sudah baik maka batang serta buahnya juga pasti akan baik. Oleh karena itu, dengan ini ustadz nyatakan kalian berhak menyandang gelar pengurus terbaik periode ini dan teruskanlah ikhtiar kalian sampai khatam dan wisuda nanti!”
      Tepuk tangan dan sorak sorai semakin menjadi-jadi ketika semua santri dan santriwati memandang kami, seolah kami adalah tokoh utama dalam kasus penjebakan. Aku baru ingat, tradisi di pondok pesantren ini sangatlah banyak. Salah satunya ialah menguji kinerja setiap kabinet pengurus per periodenya.
      Gegap gempita masih menyeruak di dada. Aku tak tahu harus berekspresi seperti apa lagi. Begitu juga dengan Rantih, Anin, Aisyah, Dwina, Sulis, dan pengurus-pengurus yang lain. Hanya Syifa yang tengah tertawa lebar di ujung sana.

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer