Bekal Untuk Ayah
Sore ini tiada senja yang menjingga di cakrawala. Awan hitam menggantikan pesona langit yang selalu ditunggu para muda-mudi di gang komplek yang padat ini. Membuat jalan sempit yang biasanya ramai dilintasi sepeda motor atau anak kecil yang sekadar bermain kejar-kejaran itu menjadi sepi tak bergeming. Guntur sesekali menggelegar menandakan akan turun hujan besar dalam waktu dekat.
Aku masih setia duduk di atas teras yang luasnya hanya beberapa persegi. Menunggu seseorang yang akhirnya terlihat batang hidungnya setelah penantian selama satu jam lebih.
“Ayo, Nak, masuk. Ngapain di luar?” Tanya seorang lelaki paruh baya bertubuh kurus dan tinggi sembari memarkirkan sepeda motor tuanya di samping teras. Rambutnya terlihat memanjang dan rahang pipinya ditumbuhi oleh bulu-bulu yang jelas terlihat tidak pernah dicukur selama beberapa minggu. Dia sekilas mirip seperti tahanan yang baru saja keluar menghirup udara segar.
“Menurut ayah?” aku menjawab ketus. Kesal karena telah menunggu terlalu lama. Namun, pria yang ku panggil Ayah itu hanya tertawa kecil sembari membelai lembut rambutku seperti biasa. Tatapan matanya seperti turut melambai, menyiratkan betapa tak terhitung jumlah dan volume kasih sayangnya padaku. Dia selalu membuatku tak sanggup untuk marah dalam jangka waktu yang lama.
Di dapur, nasi yang mengepul terletak tepat di tengah meja makan. Di sampingnya ada sayur asam dan sambal jagung kesukaanku. Aku dengan girang berlari ke meja makan. Sementara Ayah hanya terkikik dan memberi senyum kepada ibu yang sedari tadi menunggu di dapur.
“A-ku, pu-lang.” ucap Ayah terbata sembari menggerakan jari-jemarinya. Iya, Ibuku adalah seorang tunanetra sejak lahir. Ia bisu dan tuli. Namun, parasnya sangatlah menawan, terlebih lagi terlihat semakin cantik karena dipadukan dengan kepandaiannya dalam memasak.
Ibu membalas senyum dan mempersilakan Ayah untuk duduk. Tak lama kemudian, Ayah membuka suara.
“Ayah tidak akan pulang untuk sementara. Ayah mungkin akan tetap di rumah sakit sampai satu atau dua minggu ke depan.” Ucapan Ayah sedikit lambat karena juga harus menggunakan bahasa isyarat. Ibu mengangguk tersenyum, sedangkan aku, tidak. Taplak meja ini lebih menarik perhatian untuk aku pandangi daripada mendengarkan ucapan ayah.
“Maafin Ayah, ya, Put. Ayah enggak bisa nepatin janji kita lagi buat nonton film seharian.” Kini suaranya sedikit serak dan mataku mulai berair. Bagaimana tidak, hari ini ayah baru saja pulang dari piket panjangnya selama sebulan lebih. Wabah yang melanda negeri ini tak kunjung juga mereda, malah semakin hari semakin menggila. Membuat ayahku yang berprofesi sebagai tenaga kesehatan tertahan di dalam rumah yang sakit yang selalu sesak dipenuhi oleh pasien setiap waktu. Untuk hanya sekedar pulang makan malam seperti ini saja dia harus meminta izin 2 hari sebelumnya.
Aku frustasi dan ingin menggila rasanya. Ketika sosok Ayah yang selalu ku rindukan letih dan berkeringat di luar sana, namun manusia-manusia tak berotak terus saja berkeliaran tanpa menggunakan masker dan mengabaikan protokol kesehatan.
Ibu menggenggam tanganku mencoba untuk menenangkanku. Ia kemudian menyerahkan selembar kertas ke Ayah. Puteri akan mengantarkan Ayah bekal setiap hari.
Ayah tersenyum lega ketika aku akhirnya menggangguk setuju. Bagaimanapun, ini adalah tanggung jawabnya. Seharusnya aku berbangga dan menyombongkan diri ke teman-temanku karena aku memiliki Ayah yang hebat, yang tak lain adalah seorang pahlawan di masa pandemi ini.
Hari demi hari berlalu. Sudah hampir dua bulan Ayah tidak pulang ke rumah. Ia lagi-lagi tidak menepati janjinya. Aku seperti biasa menggunakan sepeda kecilku mengantarkan bekal ke rumah sakit tempat ayah bekerja. Sesekali Ibu ikut serta ketika ia merindukan Ayah. Kemudian aku akan merasa aneh sendiri ketika melihat mereka mencoba untuk berpelukan namun gagal karena terhalang oleh pagar besi rumah sakit yang tinggi. Apakah orang dewasa selalu seperti itu?
Namun untuk hari ini, tak seperti biasanya, Ayah tak menampakkan diri di gerbang belakang rumah sakit tempat aku biasa mengantarkannya makanan. Setelah satu jam menanti tanpa hasil, aku memutuskan untuk menunggangi sepedaku pulang ke rumah. Barangkali Ayah sedang sibuk-sibuknya mengurus pasien. Rantang makan itu tetap aku tinggalkan dengan tambahan tempelan kertas kecil berisikan pesan semangat.
Akan tetapi saat mulai memasuki gerbang rumah, mataku menangkap sesuatu yang aneh. Orang-orang berbaju hitam berlalu lalang di depanku. Bendera kuning yang tertancap di dua sudut halaman rumah dan dua karangan bunga besar terletak bertuliskan Selamat Jalan Pahlawan. Mengapa "selamat jalan"? Mengapa "pahlawan"? Secara perlahan otakku mulai mencerna apa yang terjadi.
Demi menepis pikiran yang mulai mengarah ke hal konyol, aku menghempaskan sepeda dan segera berlari menuju ruang tamu. Di sana, ibu terlihat menangis tanpa suara. Di depannya, tergelatak tubuh orang yang sangat ku kenali.
Ayahku, telah berpulang setelah melakukan shift 4 malam berturut-turut tanpa istirahat. Ayahku, berpulang setelah menyelesaikan misi mulianya.
Lambat laun aku tahu, orang-orang yang datang bergerombolan saat pemakaman hari itu adalah sekumpulan pasien yang telah dibantu Ayah semasa hidupnya. Ayahku bukan dokter profesional. Beliau hanya seorang perawat dengan gaji rendah yang siap sedia 24 jam merawat pasien. Namun berkat jasanya, seorang bayi balita bahkan berhasil untuk terus melanjutkan hidupnya di dunia ini. Ibu bayi itu memberitahu ibuku bahwa Ayah sempat tidak tertidur 48 jam lebih hanya untuk menimang sang bayi di dalam ruang khusus yang hanya boleh dimasuki oleh staf rumah sakit. Ibu sekali lagi menangis, dan masih tanpa suara.
Sedang bekal yang aku tinggalkan di gerbang belakang rumah sakit waktu itu kini sudah tidak tahu bagaimana kabarnya. Mungkin sudah dibuang oleh petugas kebersihan atau dilarikan oleh hewan jalanan. Yang jelas, sekarang aku punya bekal baru untuk Ayah. Sepucuk doa setelah salam semoga bisa terus membuatnya kenyang.
Selamat jalan Ayah.
Selamat jalan Pahlawan.
cr: Pinterest

Menyentuh
BalasHapusMakasi fans
Hapus