Man Man Lai

      

Seperti daun musim gugur yang dengan tak berdaya jatuh dari batang pohon, dalam hidup ini pasti ada masa di mana kita akan terjatuh dengan menyedihkan. Dibawa pergi oleh angin pahit, terombang-ambing menuju arah yang tak pasti. 
      Seorang gadis berkulit hitam dengan rambut bergelombang duduk di bawah  pohon flamboyan yang permai oleh daunnya berwarna merah menyala. Ia membolak balik kamus Chinese Modern yang besar, kemudian sedetik kemudian menghebuskan nafas panjang. Ia tidak yakin bisa menyelesaikan buku dengan ketebalan 5.5 cm ini dalam 3 minggu. Mungkin jika dalam mood yang bagus dan penuh semangat ia mempunyai peluang untuk menyelesaikannya. Namun masalahnya akhir-akhir ini  otaknya telah dipenuhi oleh banyak pikiran dan di pundaknya telah ada terlalu banyak beban. 
      Gadis itu sedang berada dalam fase ini. Fase di mana hari-hari yang dia lalui melebihi pahitnya kopi. Fase di mana hatinya terus melebur dan meleleh seperti bubur kantin di pagi hari. Atau sewaktu-waktu dia bahkan merasa dirinya lebih payah dari balita berusia 1 tahun yang tidak bisa berjalan. Pertanyaannya, sampai kapan penderitaan ini akan terus merenggut musim seminya?
      Nama gadis itu adalah Li Hua yang berarti bunga. Nama mandarin yang ia buat sendiri dengan harapan ia bisa menjadi pemberi kebahagiaan kepada banyak orang saat musim semi tiba. Layaknya bunga sakura yang selalu menjadi primadona bagi para jiwa yang mendamba cinta. Namun sayangnya, ia lupa bahwa saat musim dingin tiba sebagian bunga lenyap tak terlihat.
      Li Hua sendiri tidak menyukai drama dengan ending yang tidak bahagia. Tapi masalahnya dia tidak bisa mengatur ending untuk hidupnya sendiri. Jadi biar saja Li Hua tertatih-tatih hari ini, menangis sampai air matanya kering. Siapa tahu, mungkin saja di akhir nanti dia akan tertawa sembari berlarian di tengah kebun bunga mawar yang harum semerbak. Mungkin…
      Bisa dibilang titik awal perubahan hidup Li Hua menjadi sulit seperti sekarang adalah ketika ia memutuskan untuk meninggalkan kampung halamannya dan berpetualang jauh menyebrangi benua dengan jarak belasan ribu kilometer. Bertemu dengan orang-orang baru dan harus beradaptasi dengan budaya serta lingkungan baru. Dengan kata lain, titik awal dari semua penderitaan yang Li Hua rasakan ini adalah ketika ia baru menjadi orang asing.
      Li Hua tahu, orang berkulit hitam seperti dirinya sering menjadi simbolis korban rasisme di luar sana. Dia tahu dia akan terlihat sangat mencolok saat bergaul dengan orang asia, tetapi mimpinya tidak mengenal istilah seperti itu. Tangga menuju mimpinya ada di Negeri Tirai Bambu ini, maka tugasnya adalah untuk mengambilnya dan menapakinya. Meski harus kenyang dengan air mata, perkara mimpi yang menunggu untuk digapai adalah harga mati!
      Sebenarnya tidak ada yang salah dengan menjadi minoritas. Malah sewaktu-waktu Li Hua merasa itu adalah keuntungan sendiri. Misalnya saat di sekolah para guru bisa mengingat namanya dengan mudah karena hanya dia yang terlihat sangat berbeda. Namun sayangnya, itu juga membuat dia tidak bisa membolos kelas atau memainkan handphone saat pelajaran berlangsung karena dia akan terlihat sangat mencolok. Yang membuat Li Hua sedih adalah adanya kesepian yang telah sedia menjadi teman setianya. Ia sebelumnya tidak pernah menyangka bahwa akan ada masa di mana ia berjalan sendiri saat kegiatan tur kelas. Atau menaiki MRT dan pergi berbelanja ke mall seorang diri. Kesepian seperti ini yang perlahan mengubah dirinya. Dan dengan kemampuan berbahasa yang masih tidak terlalu bagus, ia tidak mempunyai rasa percaya diri untuk banyak beriteraksi dengan orang lain. Alhasil, di tanah asing ini ia tiba-tiba menjadi robot yang khusus terprogram hanya untuk mengatakan “terima kasih”, “harganya berapa?”, “maaf, saya orang asing”. 
      Li Hua sebenarnya adalah tipikal orang yang suka berbicara dan penasaran tentang banyak hal. Namun cara orang lain yang memandangnya berbeda membuat nyalinya menciut dan memilih untuk lebih banyak diam. Begitu juga dengan hubungan pertemanan. Dia selalu berpikir tentang bagaimana asyiknya pergi makan hotpot bersama teman dan pulang tengah malam tanpa memedulikan omelan bibik penjaga asrama. Atau bagaimana rasanya pergi berlibur ke tempat yang indah dan memposting foto yang telah diabadikan bersama teman di beranda WeChat. Sampai saat ini, sampai saat air mata hampir keluar dari pelupuk matanya, memiliki kehidupan yang normal seperti orang lain masih menjadi mimpinya. Menjadi normal tanpa harus merasa risih oleh pandangan orang lain di tempat umum.
      Suatu hari seorang guru mengajaknya bicara. Bertanya tentang segala sesuatu yang mengusiknya. Saat itu Li Hua merasa tidak ada salahnya untuk berbicara jujur dan membagi kesusahan yang ia rasakan kepada orang lain. Mungkin saja itu bisa membuatnya sedikit lega. Karena hati manusia memiliki volume yang tidak terlalu besar. Jika segala kesusahan disimpan rapat dalam hati, maka di mana ruang untuk kebahagiaan?
      Setelah berbicara panjang lebar dengan pengucapan yang terkadang tidak tepat, Li Hua kini merasa sedikit tenang karena telah membagi kesedihannya.
      “Man Man Lai (bahasa Indonesia: Pelan-pelan)”. Ucap guru berambut panjang dengan senyum manis itu.
      “Kamu sudah melakukan yang terbaik. Bisa berbicara seperti ini dengan hanya mempelajari bahasa mandarin dalam satu tahun adalah hal yang hebat!”
      Mendengar hal itu membuat kepala Li Hua membesar. Namun satu detik kemudian kepalanya kembali menyusut karena bisa saja kalimat itu adalah fakta atau hanya kalimat untuk menghiburnya yang selalu tidak punya percaya diri. Bukankah manusia suka seperti ini? berbohong untuk menenangkan.
      Di kesempatan lain, ia juga menceritakan keluh kesahnya kepada salah satu teman kamarnya. Khusus untuk teman kamarnya yang satu ini, Li Hua tidak merasa terbebani untuk berbicara panjang lebar meski lawan bicaranya terkadang tidak mengerti apa yang dia ucapkan. Dia juga sering bercerita tentang masalah lain dan kalimat khas yang selalu teman kamarnya ucapkan adalah “Man Man Lai”.
      Li Hua masih tidak mengerti, ada beberapa kalimat dalam bahasa mandarin yang secara bahasa tidak terdapat pada bahasa lain atau secara khusus sangat bagus saat didengar. Contohnya seperti kalimat “Man Man Lai”. Selain memiliki makna menenangkan, kalimat ini juga bisa menjadi suntikan bagi mereka yang membutuhkan motivasi. Namun bisa juga menjadi landasan bagi pemalas yang menunda-nunda sesuatu yang seharusnya dikerjakan dengan cepat. Entah makna mana yang akan ia gunakan, semua itu berada di tangannya.
      Masih berada di bawah pohon flamboyan, Li Hua mengamati bunga-bunga merah yang berjatuhan satu per satu. Angin yang berhembus turut membuat daunnya berterbangan kemudian jatuh dengan indah di atas rumput hijau yang segar. 
      “Man Man Lai” ucap Li Hua sembari menatap takjub bunga dan daun flamboyan yang terjatuh dengan perlahan.
      Di seberang sana, tak jauh dari pohon flamboyan tempat ia bersandar, dua orang yang ia ingat sebagai teman kelasnya berjalan menuju arahnya. Tidak, mungkin mereka akan menuju perpustakaan yang tepat berada di samping pohon flamboyant besar ini. 
      “Man Man Lai” Li Hua kembali mengulang kalimatnya. 
      Sebuah ide secara ajaib tiba-tiba muncul di otaknya.
      “Man Man Lai” Kali ini ia mengucapkan kalimat itu sembari mengemas kamus besar Chinese modern ke dalam tas punggungnya. 
      “Man Man Lai” Kini ia berucap dengan nada yang lebih tinggi dan mantap. Ia sudah berdiri dan tasnya sudah ia sampirkan ke punggungnya. Dengan sedikit rasa percaya diri, Li Hua memutuskan untuk berjalan mendekati dua teman kelasnya itu.
      “Ha-halo.” Sapa Li Hua dengan canggung.
      “Halo…” jawab kedua orang itu serentak.
      “Kalian mau kemana?” tanyanya.
      “Perpustakaan.” Jawab salah seorang dari mereka.
      Kemudian senyap selama beberapa detik. Li Hua menyesali pertanyaannya karena jika mereka melewati jalan ini mereka pasti akan menuju perpustakaan. Itu adalah pertanyaan retorik yang bodoh. Kemudian kedua orang itu terdiam karena mereka baru pertama kali berbicara dengan Li Hua yang selalu menjadi siluman batu di kelas.
     “Mau ikut dengan kami?” Tanya mereka serempak. Itu jelas tidak direncanakan! Namun mengapa mereka bisa bertanya dalam waktu yang sama?
      Li Hua sangat terkejut. Kata itu yang selama ini ia tunggu-tunggu. Terlebih saat mereka mengucapkannya dengan begitu serempak membuat Li Hua senang tak tertolong.
      Setelah memasuki perpustakaan dan memilih buku, mereka bertiga duduk di salah satu meja panjang dekat jendela. Hari ini perpustakaan sangat ramai karena ujian akhir semester tinggal menghitung hari.
      “Sebenarnya, kami mengira kamu adalah tipikal orang yang tidak ingin bergaul dengan mahasiswa lokal seperti kami.” Ucap salah seorang dari ‘teman baru’ Li Hua.
      Li Hua dengan cepat menggelengkan kepala. Tidak, itu sama sekali tidak benar. Dia bukan tidak ingin bergaul, melainkan dia hanya tidak punya percaya diri!
      “Bahasa Mandarinku kurang bagus. Aku takut kalian tidak mengerti dan malah membuat kalian repot saat berbicara denganku.” sanggah Li Hua dengan berbisik. Tentunya peraturan pertama di perpustakaan adalah tidak boleh berisik.
     “Hei! Apa yang kamu takutkan? Malah kami dengan senang hati akan menjadi guru bahasa mandarinmu.  Jadi berbicaralah semaumu. Man Man Lai!” 
      Ternyata selama ini hal yang menjadi duri dalam hari-hari berat Li Hua adalah perspektifnya sendiri. Secara tak sadar isu rasisme sudah mengakar dalam dirinya dan menghapus rasa percaya diri yang sebelumnya ia miliki. Lihatlah, sekali ia buka suara ia sudah punya dua teman baru! Kau hanya butuh sedikit percaya diri dan menghiraukan kata rasisme. Walau tidak bisa dipungkuri sifat ini bisa saja dimiliki secara alami oleh kebanyakan orang.
      “Man Man Lai.”
      Entah mengapa kalimat itu kini terdengar semakin menarik dan lucu. Alhasil Li Hua tak dapat membendung tawanya. Kedua temannya yang tidak mengerti mengapa Li Hua tertawa juga ikut tertawa karena itu pertama kalinya mereka melihat Li Hua penuh ekspresi. Kemudian salah seorang penjaga perpustakaan datang dan memarahi mereka karena telah berbuat keributan.
      Li Hua terperangah. Ia lupa bahwa dimarahi saat berbicara di perpustakaan bersama teman juga adalah salah satu mimpinya! 




Pic cr: Pinterest 

Komentar

Postingan Populer