Chap. 01
* V-Jurnal adalah sebuah tulisan sederhana yang 100% mengandung buah manis dari pelajaran yang didapatkan penulis dalam kehidupannya sehari-hari. Entah itu buah yang diberikan oleh orang lain atau buah yang berhasil ia petik sendiri. Semoga manis buah ini sampai padamu.
Kamis, 21 Mei 2021
- MEMELUK POHON -
Sore ini aku menemui seorang teman di tengah kesibukannya sebagai mahasiswi kedokteran. Bilbi, begitu disebut nama aslinya yang berarti burung Bulbul, burung yang sangat berjasa dalam sejarah umat Islam. Bilbi adalah mahasiswi asing asal Turkmenistan, seorang gadis bertubuh tinggi dengan hidung mancung dan kedua mata dalam khas wanita Timur Tengah.
Percakapan yang seharusnya singkat itu berlanjut panjang hingga ke meja makan. Kami menggunakan keempatan ini untuk saling mengenal lebih jauh. Ini kali pertama kami dapat berbicara dengan durasi yang lumayan lama setelah saling kenal selama hampir dua semester. Jangan berharap untuk sering berinteraksi dengan orang dari fakultas yang berbeda.
Setelah kedua mangkuk Mi Tarik-salah satu makanan khas Muslim Tiongkok-habis, kami berjalan kaki kembali menuju asrama. Di perjalanan pulang inilah Bilbi memberiku beberapa petuah. Percakapan yang tidak pernah aku sangka akan membuka pelan pintu-pintu yang selama ini terkunci rapat oleh ego dan pemikiran sempitku.
Bilbi mengajariku tentang cara memeluk pohon. Iya, terdengar aneh, begitu pula dengan aku yang menganggapnya tidak waras saat aku tiba-tiba melihatnya berhenti dan memeluk pohon di samping jalan. Tetapi Bilbi dengan santai berkata, “Sama halnya seperti manusia, pohon juga makhluk hidup. Mereka memiliki jiwa sendiri. Saat kamu ingin menenangkan pikiran, lelah dan jenuh dengan semua hal, kamu dapat memeluk pohon dan berbagi bebanmu kepada mereka.”
Bilbi memintaku menirunya dan aku tentu saja menolak, terlebih lagi saat orang-orang yang berlalu lalang mulai menatap kami.
“Aku tahu ini terlihat aneh, dan tentu saja hanya kepada Allah tempat kita mengadu. Namun sebagai makhluk ciptaan-Nya, lantas apa bedanya memeluk pohon dengan memeluk manusia?” ucapan Bilbi terdengar logis.
“Pejamkan matamu, hirup bau kayu di depanmu dan rasakan denyut mereka.” seperti sihir aku menuruti semua perkataan Bilbi. Aku yakin ada banyak pasang mata tertuju kepada kami. Sudah cukup pakaianku menarik banyak perhatian, batinku.
“Jangan hiraukan mereka. Masalah terbesarmu adalah terlalu peduli dengan pandangan orang lain.” tambah Bilbi. Ia sepenuhnya benar.
Aku mulai menutup mata, membiarkan aroma-yang katanya magis itu- masuk melalui indra penciumanku. Aku menghirup bau kayu yang membawaku terbang menuju dapur nenek yang masih memiliki deretan kubik kayu bakar untuk memasak sehari-hari. Aroma manis itu juga membawaku terbang menuju hutan kecil dengan sumber mata air jernih kebanggaan orang-orang di kampung halaman sana. Aku memeluk pohon dengan semakin erat dan mulai merasakan kulit kayu terasa semakin kasar. Anehnya di sisi lain aku juga merasa semakin nyaman. Apakah ini rasanya saat memeluk beban berat dengan senyuman (sepenuh hati)?
“Bagaimana? Nyaman, bukan?” tanya Bilbi dengan senyum puas di wajahnya. Aku mengangguk, tidak pernah terpikirkan tentang pohon yang memiliki fungsi seperti ini.
Perjalanan kami lanjutkan melewati tepi danau utama kampus. Biasanya saat pagi dan sore hari, beberapa kelompok angsa dan bebek mengambil spot berendam di tengah danau. Mereka selalu menjadi objek utama bagi orang-orang yang senang mengabadikan panorama indah di danau dengan air berwarna hijau lumut bernama Zhongqiu itu.
“Bilbi, apa kau pernah merasa risih dengan tatapan orang-orang?” Tanyaku di sela langkah kami yang mulai menjauh dari tepi danau. Aku menangkap beberapa pasang mata yang melihat kami-entah dengan tatapan penasaran atau aneh. Mereka mungkin saja orang luar yang punya kepentingan di sini. Karena mahasiswa dan dosen lama sudah terbiasa melihat mahasiswa asing dengan penampilan mencolok seperti aku dan Bilbi.
“Vi, kau tahu? Mata adalah jendela pikiran. Setiap orang punya jendela yang berbeda-beda, jadi mereka juga punya pemikiran yang berbeda-beda. Memikirkan apa yang mereka pikirkan hanya menghabiskan waktu dan tenaga.” Aku mengangguk paham. Sekali lagi apa yang diucapkan Bilbi benar. Aku tidak seharusnya memenuhi isi kepalaku tentang ketakutan terhadap opini orang lain.
“Kita hanya butuh percaya diri. Lakukan apa yang ingin kamu lakukan, pergi ke mana saja yang ingin kamu tuju tanpa harus memedulikan tatapan orang lain. Orang-orang menatap kita karena kita berbeda, dan, berbeda berarti istimewa!” Iya, Bilbi benar. Itu membuatku teringat dengan kutipan dalam Salju Gurun karya Dee Lestari:
“Di hamparan gurun yang seragam, jangan lagi menjadi butiran pasir. Sekalipun nyaman engkau dengan impitan sesamamu, tak ada yang tahu kau melayang hilang.”
Sore yang singkat itu ditutup dengan sinar hangat mentari yang telah sepenuhnya menghilang dari balik deretan gedung asrama. Kami harus berpisah karena aku dan Bilbi tinggal di asrama yang berbeda dan berjauhan. Obrolan penuh makna itu terpaksa berakhir karena aku harus segera kembali. Waktu maghrib sudah tiba sejak beberapa menit yang lalu dan Bilbi harus kembali untuk menuntaskan tugas dari professornya. Kami berjanji untuk mencari waktu luang dan mengobrol kembali. Walau kami sama-sama tahu hal itu tidak akan datang dalam waktu dekat.

Aku baru pertama baca. Cinta sekali sama tulisan mu Arvia. (Heni)
BalasHapusTerima kasih telah membaca kak ^^
Hapus