Nilai Sosial dalam Novel “Terusir” Karya Buya Hamka


Judul Buku: Terusir
Penulis: Hamka
Penerbit: Gema Insani, Jakarta
Cetakan: Pertama, Januari 2016
Tebal: viii + 132 halaman  

      “Seorang perempuan apabila telah bersuami, hidup matinya, sakit senangnya, bergantung kepada suaminya.”

      Kutipan tersebut mewakili nilai sosial yang ingin Hamka sampaikan dalam “Terusir”. Bahwasanya, pernikahan adalah tentang ketergantungan suka duka seorang istri kepada sang suami. Sebab sebagai kepala keluarga, suami berperan menjadi nakhoda yang menentukan ke arah mana angin membawa kapal rumah tangga melaju. Suami adalah nakhoda yang bertanggung jawab terhadap bahagia tidaknya kehidupan seorang istri.
      Dalam novel ini, Azhar sang nakhoda melakukan kesalahan fatal dengan tidak memberi sedikitpun kesempatan kepada sang istri-Mariah-untuk membela diri. Fitnah kejam yang dilayangkan kepada Mariah membuat Azhar memutuskan untuk mengusir istrinya itu tanpa berpikir dua kali. Akibatnya, Mariah harus menempuh kehidupan hina setelah ditendang dari rumah yang telah menjadi pusat bahagianya selama bertahun-tahun. Ia juga dipaksa meninggalkan sang buah hati yang telah menjadi separuh dari dirinya. Dengan begitu, Azhar mencipatkan duka yang besar nan hebat dalam hidup Mariah. Duka yang di kemudian hari membawa perempuan malang itu luntang-lantung sampai Tanah Jawa. 
      Menjadi janda membuat Mariah tidak mempunyai banyak pilihan untuk bertahan hidup. Apalagi, ia sudah tidak memiliki orang tua sebagai tujuan pulang. Di ujung tanduk pengharapan, Mariah hanya dihadapkan oleh dua pilihan. Pertama, mencari makan dengan jalan tidak halal yaitu melacurkan diri, kedua, mati tidak makan. Mulanya, Mariah berhasil menghindar dari pilihan pertama setelah ia akhirnya mendapat pekerjaan sebagai pembantu di sebuah rumah orang Belanda. Namun seiring waktu berlalu, takdir kembali menuntunnya pada pilihan tersebut. Seorang perempuan yang terlahir suci dan setia itu akhirnya memilih untuk terjun ke tingkatan masyarakat terendah. 
      Di sini, Hamka menonjolkan bagaimana perempuan pada akhirnya menjadi korban dalam kehidupan sosial yang tidak setara. 

      “Diberinya gelaran yang buruk kepada perempuan itu, dinamainya ‘sampah masyarakat’ dinamainya ‘bunga mengandung racun’, ‘kupu-kupu malam’ dan lain-lain nama yang hina dan buruk. Padahal ia sendiri yang menyuruh sesat ke dalam lembah itu.” 
      “Dikutuk perempuan itu, ditimpakan segala macam kesalahan padanya, dikatakan ia wakil iblis, perbedayaan setan, padahal laki-laki itu yang lebih iblis.”   
 
      Mariah adalah bunga mengandung racun yang pernah mengandung sari madu. Mariah adalah kupu-kupu malam yang pernah bersemayam di tempat tersuci taman firdaus. Namun akibat kebodohan nakhoda-nya, Mariah membuang jauh-jauh harga dirinya sebagai seorang wanita. Ia melupakan jati dirinya sebagai manusia dan menjelma menjadi layaknya sebuah barang yang selalu berubah kepemilikan. 
      Begitulah nasib Mariah yang mewakilkan nasib perempuan-perempuan malang yang terjerumus ke dalam lembah kehinaan. Diterangkan pula bahwa pada waktu itu, penghapusan penyakit pelacuran yang telah berusia ribuan tahun menjadi perdebatan di antara para sosiolog besar. Berbagai macam cara telah dilakukan namun penyakit masyarakat ini seperti jamur musim penghujan yang tetap akan muncul seiring waktu. Dengan demikian, secara tidak langsung Hamka mengundang pembaca untuk turut berpikir, bagaimana cara memusnahkan budaya hitam yang telah mengotori negeri ini? 
      Membaca novel ini seperti menyingkap tabir sosial yang jarang diketahui atau disadari oleh orang banyak. Bahwasanya, penyakit pelacuran merupakan sebuah sebab dan akibat. Jika saja Mariah mendapat kesempatan untuk membela diri, ia tidak akan terusir dari rumah suaminya. Jika saja perempuan-perempuan malang yang lain mendapat perlakuan yang pantas di tengah masyarakat, mereka tidak akan membuang diri ke rumah pelacuran. Jadi bisa disimpulkan bahwa penyakit ini merupakan tanggung jawab bersama. Dan kehidupan menyedihkan yang dilalui Mariah juga merupakan tanggung jawab Azhar, mantan nakhodanya.

Arvia Fuja Aslami (penulis pemula dan mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Huaqiao di Tiongkok) 

Komentar

Postingan Populer