Upaya Mewujudkan NTB Gemilang dengan Generasi Milenial Tanpa TKI
Berbicara masalah generasi milenial berarti berbicara tentang sebuah generasi yang mendominasi zaman dewasa ini. Mengapa demikian, karena generasi milenial atau yang juga disebut sebagai generasi Y memiliki tingkat populasi yang lebih tinggi daripada generasi X. Generasi ini lahir pada kisaran tahun 1980-2000an, yang berarti milenial adalah generasi muda yang berumur 17-37 pada tahun ini (sumber: rumahmillennials.com).
Tak jarang keterbatasan ekonomi dan kurang adanya motivasi dalam menempuh study membuat siswa dan siswi Sekolah Menengah Atas atau bahkan Sekolah Menengah Pertama memilih untuk memutuskan sekolah dan banting setir mencari pekerjaan. Kurangnya pengalaman serta pengetahuan membuat masyarakat mau tak mau harus mengadu nasib di negeri orang. Lambat laun hal ini akan menjadi suatu kebiasaan, sehingga jika seseorang memutuskan untuk menjadi TKI pada usia 17 tahun, maka sampai tahun-tahun selanjutnya bisa diprediksi ia akan terus memilih jalan tersebut. Karena menjadi TKI merupakan sesuatu yang sangat lazim, sangat marak dan seperti menjadi adat di Nusa Tenggara Barat. Padahal, sumber daya manusia (SDA) terutama generasi milenial memiliki potensi diri yang luar biasa yang akan sia-sia jika hanya dihabiskan dengan bekerja di ‘tanah orang’. Melalui sedikit pelatihan saja setiap orang akan mampu mengembangkan kemampuan dalam dirinya.
Untuk itu, diperlukan adanya upaya dari pemerintah dalam mengatasi permasalah kerja di Nusa Tenggara Barat. Hal itu bisa dilakukan dengan membuat semacam komunitas atau tempat pelatihan gratis yang berisi kegiatan mengajar serta melatih bakat masyarakat (generasi milenial) dalam berwirausaha, prakarya, atau seni dan lain-lainnya di setiap daerah.
Dengan adanya pelatihan gratis siapa saja dapat ikut dan belajar tanpa harus terbebani oleh tingginya biaya. Masyarakat yang tidak mempunyai pekerjaan atau siswa yang telah lulus/putus sekolah dapat ikut dalam kegiatan ini, tentunya dengan niat yang sungguh-sungguh. Melalui langkah ini mereka diajarkan bagaimana cara berwirausaha yang baik dan benar dengan melatih kemampuan dalam membuat
kerajinan tangan yang kemudian hasilnya dapat dipasarkan. Atau untuk pecinta seni bisa dilatih dengan mengembangkan bakat musik, tari, lukis, dan lain sebagainya yang pastinya juga sangat berdampak positif bagi konservasi budaya. Seperti kata pepatah; menyelam sambil minum air.
Kegiatan pelatihan cukup dilakukan selama satu tahun untuk setiap orang.
Setelah itu dilanjutkan dengan proses pengenalan lapangan kerja (magang) di beberapa tempat dengan pengawasan yang tak lepas dari mentor. Setelah dirasa cukup mampu, masyarakat dapat mulai terjun secara mandiri dalam berwirausaha ataupun berkarya. Tak lupa sebagai modal, pemerintah memberikan layanan
simpan pinjam modal untuk masyarakat yang tentunya tanpa dibebani dengan embel-embel bunga.
Terlepas dari itu, keuntungan dalam aspek budaya yang dapat diperoleh dengan adanya pelatihan ini antara lain ialah pengembangan kerajinan tangan berupa pembuatan gerabah, kearifan lokal berupa tarian Gendang Beleq yang di mana merupakan salah satu warisan budaya Nusa Tenggara Barat, dan masih banyak lagi.
Jika sekiranya pemerintah dapat melakukan upaya seperti yang telah
dipaparkan di atas, tentunya minat masyarakat akan teralihkan dengan
berwirausaha dan berkarya secara mandiri. Masyarakat juga dapat lepas dari keterlenaan untuk menjadi TKI. Karena seperti yang kita ketahui bahwa TKI memang memiliki gaji yang terbilang besar, namun dengan resiko mengikhlaskan diri untuk jauh dari sanak keluarga yang disayangi. Waktu berharga bersama keluarga sangat menipis dan bahkan menjadi tidak ada sama sekali.
Selain itu, maraknya kasus penyiksaan terhadap TKI akhir-akhir ini juga perlu diwaspadai. Seperti yang terjadi pada Norfia Linda (23), TKI asal Lombok Timur yang dianiaya majikannya di Kuala Lumpur, Malaysia setelah baru satu bulan bekerja pada tahun 2015 silam. Nofia dipukuli hingga wajahnya lebam, kepalanya mengalami benjolan dan jari manis kirinya patah (sumber: m.detik.com). Terdapat juga kasus pembunuhan sepasang suami istri TKI asal Lombok yang bekerja sebagai penjaga kebun buah naga di Seremban, negara bagian Negeri Sembilan, Malaysia pada tahun 2014 (sumber: nasional.tempo.co). Di atas merupakan contoh kecil dari sekian kasus penyiksaan TKI yang terjadi di negeri rantauan.
Terbentuknya kegiatan pelatihan gratis seperti ini diharapkan mampu
mengurangi minat masyarakat untuk bekerja sebagai TKI yang di mana dianggap terlalu beresiko dan menyia-nyiakan potensi dalam diri masing-masing. Kegiatan ini sangat bermanfaat untuk NTB karena selain berguna bagi generasi milenial
juga dapat berdampak baik bagi kelangsungan budaya dan kearifan lokal Nusa Tenggara Barat.

Komentar
Posting Komentar