Aku dan Aku

Pengap. Gelap. Sempit.
Mataku terbuka mengamati ruang sekitar. Masih di tempat yang sama, masih dengan penderitaan yang sama pula. Tali ini menjerat kakiku dengan sangat kuat. Sakit, namun suaraku sudah terlalu serak untuk merintih. Kedua tanganku terkunci oleh lingkaran besi yang berat. Percuma. Tak ada yang bisa aku lakukan selain diam dan mengeluarkan air mata.
Langkah kaki terdengar mantap datang kemudian membuka jeruji besi. Suaranya yang nyaring memekikkan telinga. Aku mendongak, sial! Orang gendut ini lagi.
"Hei bangun! Jaksa meminta bertemu denganmu." Ucapnya datar.
Aku menunduk, diam. Bagaimana aku bisa bangun dengan keadaan kaki yang terikat seperti ini?
"Cih."
Orang itu mendesis seperti tau apa yang aku pikirkan. Ia pun kemudian membuka jeratan tali yang selama satu minggu lebih menghiasi kakiku. Meski begitu, tetap saja aku tidak bisa berjalan normal seperti biasanya. Ini sakit, kakiku memerah karena lecet.
Orang gendut berseragam polisi itu kemudian membantuku berjalan melewati lorong gelap dengan belasan sel tahanan di sisi kanan dan kiri. Hari masih pagi dan mereka masih tertidur pulas meringkuk di atas lantai yang dingin.
"Selamat pagi, nona Lisa. Bagaimana kabarmu?" Orang dengan kemeja panjang menyapaku hangat.
Aku hanya membalas dengan senyum singkat. Dia pasti tahu jika keadaanku tidak baik-baik saja.
"Baiklah rasanya saya tidak perlu basa-basi lagi. Mari kita mulai interogasi kita yang ke-8." Ucapnya sembari membuka laptop.
Aku menghela nafas. Orang ini hanya membuang-buang waktunya saja. Berapa kali pun ia mencoba untuk bertanya, aku hanya akan menjawab "tidak", "bukan aku", atau diam. Jangan tanya kenapa, karena aku saja tidak tahu kenapa orang-orang di sekitarku bertanya tentang sesuatu yang tidak aku ketahui. Mereka bertanya seolah-olah aku sumber dari semua rasa ingin tahu itu. Gila, semakin hari pertanyaan mereka semakin menggila. Dan aku benci itu.
"Nona Lisa Puri Handayani, menurut laporan, pada tanggal 24 September 2017 anda melakukan kekerasan yang sangat fatal berupa pembunuhan berantai terhadap penduduk sipil. Anda membunuh 23 orang warga desa dalam satu hari. Apa saya benar, nona Lisa?"
Aku menutup telingaku. Setiap kali orang ini berbicara seperti itu dadaku menjadi sesak. Hatiku rasanya tercabik, dan telingaku bergemuruh seperti mendengar suara teriakan. Orang itu diam sejenak, seperti menyerah melihat keadaanku. Namun sekuat apapun aku membantahnya, ia akan semakin bertanya lebih dalam. Kepalaku sakit mencoba untuk mengingat semua kejadian selama satu minggu terakhir ini. Namun sia-sia tak ada yang spesial, biasa saja. Aku pergi ke sekolah pada pagi hari hingga sore. Dan setelah itu bekerja paruh waktu sampai jam 9 malam. Lalu dimana waktuku membunuh puluhan warga seperti yang dikatakan orang sialan ini? Hari libur aku menggunakannya untuk membaca dan belajar seharian penuh di perpustakaan kota. Benar-benar tak ada waktu untuk melakukan hal lain atau bermain. Dan sekarang, ia menuduhku membunuh 23 orang? Ouhh ini konyol! Sungguh.
Tak ada yang bisa aku lakukan dengan tubuh kecilku selain membawa tumpukan piring kotor menuju dapur. Atau bergulat dengan bolpoin dan puluhan novel romance. Aku tak suka film action dan novel horor. Aku suka kelembutan, aku suka warna pink dan warna pastel. Tak ada faktor yang membuatku menjadi pembunuh. Dan sekarang, orang-orang ini menunduhku menjadi pelaku pembantaian. Cih, ini benar-benar gila.
Ketika aku hendak membela diri lagi, pintu terbuka menampakkan seseorang memakai jubah lengkap dengan kopiah dan sorban putih. Aku mengenalinya. Dia adalah orang yang sangat aku hormati dan kagumi, semua warga desa juga begitu. Ia adalah Ustadz Maulana – seorang tokoh agama di desaku. Tak ada yang tak mengenalinya. Cara bertausyiahnya yang santai namun menyentuh hati membuat para jamaah sangup berjam-jam mendengarkan ceramahnya. Ketika sempat aku juga sering menghadiri pengajiannya. Jadi bisa aku simpulkan bahwa ia datang kesini untuk membelaku. Mungkin.
“Duduklah, Ustadz. Kami sudah menunggumu.” Ucap Jaksa itu – masih dengan sikapnya yang hangat.
Ustadz Maulana mengangguk kemudian mengambil kursi yang ada di depanku. Aku tersenyum padanya memberi salam. Namun ia diam kemudian menoleh ke arah lain dengan wajah gugup. Dia terlihat seperti – ketakutan?
“Kau kenal dia, Lisa? Beliau datang kesini untuk memberikan kesaksian. Kasusmu adalah kasus yang sangat serius dan rumit. Aku tak bisa membawa hal ini ke meja hijau jika kamu terus-terusan mengelak dan menolak untuk kerja sama. Jadi aku harap dengan kesaksian Ustadz Maulana kamu bisa sadar dan memberikan pernyataan yang original.” Pak Jaksa kini berbicara serius. Sikap hangatnya hilang berganti tatapan tajam menusuk.
“Baiklah seperti yang Anda katakan kemarin, silahkan keluarkan pernyataan Anda.” Jaksa itu mengambil smartphonenya bersiap untuk merekam perkataan saksi.
Ustadz mengusap wajahnya, menarik nafas panjang. Ia masih terlihat gugup dan selalu menghindar untuk beratatap muka denganku. Kenapa?
“Waktu itu ketika saya baru saja selesai memimpin sholat berjamaah kira-kira pukul pukul 19.45 WIB, saya melihat Lisa menyeret dua karung besar di gang yang gelap nan sepi. Saya memanggilnya menawarkan untuk membantu. Namun ia hanya diam dan menatap dingin ke arah saya. Saat itu ia memang terlihat agak aneh, terutama dengan pakaiannya. Lisa yang semula anggun selalu memakai dress panjang berwarna cerah malam itu untuk pertama kalinya saya melihat dia memakai celana jeans dengan jaket berwarna hitam dan memakai masker. Mungkin orang lain sepintas tidak akan mengenalinya dengan penampilan yang seperti itu, tapi saya mengenal Lisa. Seorang gadis pintar, pekerja keras, dan religious yang sering kali hadir di pengajian saya dan menjadi relawan di panti asuhan desa.” 
Aku tertegun. Mengapa bisa? Semua yang dikatakan oleh pak Ustadz tak satupun berbekas di ingatanku. Kapan aku bertemu dengannya? Kapan aku membawa 2 karung besar? Dan sejak kapan aku suka memakai jeans serta jaket hitam? Ini sungguh membuatku pusing.
“Melihat tak ada respon saya kemudian memutuskan untuk pergi setelah sebelumnya memberi salam. Dan anehnya lagi Lisa tidak menjawab salam saya dan pergi begitu saja. Setelah sampai di rumah, Ridho – anak bungsu saya memberi kabar bahwa puluhan warga desa dinyatakan hilang sejak beberapa jam yang lalu. Awalnya saya tak percaya dan mengira itu hanya cerita bualan Ridho setelah menonton film horror bersama kakaknya, namun hal itu dibenarkan oleh istri saya. Merasa resah, saya kemudian menghubungi kepala desa untuk mengkonfirmasi hal ini dan jawaban yang saya dapat persis seperti apa yang dikatakan istri saya. Meskipun pihak polisi turun tangan dalam kasus ini tapi saya memutuskan untuk ikut mencari bersama warga lainnya.” Ustadz diam sejenak mengambil nafas panjang.
“Berjam-jam mencari mengelilingi desa selama beberapa kali, teriakan histeris terdengar dari salah satu lahan dengan banyak semak di sudut desa. Kami sontak bergegas menuju arah sumber suara dan menemukan seorang pemuda – salah satu dari tim pencari disana. Pemuda itu menunjuk rumah pagar kosong dengan lampu remang. Sekilas itu seperti rumah biasa, namun darah bertumpahan mengalir dari bawah pintu. Darah itu sangat banyak mengalir seperti air bah. Dan ketika kami sepakat untuk membuka pintu-”
Ustadz tidak melanjutkan kalimatnya. Ia sibuk mengontrol tangannya yang kini sudah bergemetar tak terkendali. Apakah ia setakut itu?
“Dan – dan sesuatu yang tidak pernah saya bayangkan terjadi. Dengan pisau di tangan kanan dan kapak di tangan kiri, Lisa membunuh warga.”
Air mataku menetes. Satu, dua, tiga, puluhan butiran itu membasahi pipiku. Aku menangis tak terkendali. Aku masih tak percaya dengan semua lelucon ini! Apa benar aku adalah dalang dari cerita menyeramkan itu? Tapi mengapa?! Aku tak mengingatnya sedikitpun. Dan jika benar, atas dasar apa aku melakukan semua itu?! Oh aku menghormatimu Ustadz, tapi mohon mengaranglah dengan cerita yang lebih baik. Semua terasa seperti mendengar dongeng menyeramkan sebelum tidur. Dan aku tidak pernah menyangka bahwa aku adalah pemeran utama dalam dongeng itu.
“Mohon tenang dulu, Lisa. Kita belum tuntas mendengarkan penjelasan Ustadz.” Jaksa itu mencoba menenangkanku.
Namun apa daya, aku sudah tak kuasa menahan ledakan tangis ini. aku terlalu lelah untuk bingung. Aku terlalu lelah dicap sebagai orang jahat. Dan sekarang, apa aku harus mempercayai cerita sadis itu?
“Secara logika, semua ini bukan salah kamu, Lisa.”
Tangisku berhenti. Apa maksudnya?
“Mari kita dengarkan informan kedua. Pak Daniel silahkan suruh dia masuk.”
Polisi gendut itu mematuhi perintah Jaksa dan satu menit kemudian seorang wanita paruh baya berkaca mata muncul dari balik pintu. Berbeda dengan Ustadz, wanita ini menyapaku dengan senyuman hangatnya.
“Hai, Lisa. Namaku Dina Setya Negara. Orang-orang biasa memanggilku nyonya Tya.” Ucap orang itu sembari menyodorkan kartu namanya. Ia adalah psikiater.
“Langsung to the point saja, disini aku akan menjelaskan kelainan yang secara tidak sadar sudah kau alami selama beberapa tahun ini.”
Aku melongo. Kelainan apa?
“Kamu mengidap Dissociative Identity Disorder atau yang biasa dikenal dengan Gangguan Kepribadian Ganda. Yaitu kelainan dimana terdapat dua kepribadian dalam tubuhmu.”
Aku terdiam. Semakin tidak mengerti.
“Kebanyakan penderita memang tidak akan menyadari kelainan yang ada pada dirinya. Tanpa rasa tahu itu mereka hidup seolah baik-baik saja seperti orang lain, hidup dengan dirinya sendiri. Dan hal ini juga berlaku padamu.”
“Kau tahu? Umumnya di luar sana bahkan ada beberapa orang dengan 30 lebih kepribadian yang bersarang dalam tubuhnya. Dan kau beruntung hanya memiliki dua. Namun sayangnya, kamu yang lain adalah cerminan dari kamu yang sekarang. Dirimu yang lain adalah orang yang buas. Orang yang memiliki sifat keras, egois, dan gila. Yang sekarang dikenal sebagai pelaku-pembunuhan-berantai.”
Hatiku berdetak, tanganku gemetar. Kenapa rasanya seperti aku menyetujui perkataan wanita ini? Dan semua terasa lebih masuk akal sekarang. Jadi, apa ini adalah akhir dari dongeng menyeramkan itu?
“Haha akhirnya kau datang juga. Aku sudah lelah dengan keluguan gadis ini. Dengan bodohnya ia selalu tak tahu keberadaanku.” Itu aku yang lain.
Ruangan menjadi lengang. Dengan tangan gemetar si Jaksa berbicara:
“Lisa Puri Handayani. Secara biologis saya menyatakan bahwa Anda bersalah atas kasus pembunuhan berantai yang mengakibatkan 23 korban jiwa tak bersalah.”
Aku tersenyum. Ini yang aku mau.

Komentar

Postingan Populer