Hujan Tetaplah Hujan
Hujan, bagiku setiap hadirnya membawa makna. Tentu saja bagi orang-orang yang memiliki kenangan tentang hujan. Seperti kisahku yang tersimpan rapi dalam setiap tetesan bulir airnya.
26 Agustus 2012
Dari balik buku yang basah karena hujan, aku mengamatinya. Di sini, di sebuah warung yang kira-kira dua kilometer jauhnya dari sekolah aku terperangkap bersamanya. Bersama seorang lelaki yang sudah dua tahun ini menghuni hati namun tak kunjung berhasil aku miliki.
Sesekali aku melepas pandang menuju arah lain saat ku tahu wajahnya mengarah padaku. Sesekali juga mata kami bersitatap. Dan dengan kecepatan lirikan aku menghindar. Malu, geli, senang. Itulah yang kurasakan bersama dengan pipi yang sudah merah merona karenanya.
Namun sayangnya hanya aku yang merasa seperti itu. Dia, lelaki yang tengah berada di hadapanku ini tak pernah punya rasa yang sama denganku. Miris. Sungguh miris. Padahal sudah dua tahun aku menetapkannya menjadi pemilik hati. Namun ia selalu saja menganggapku sebagai orang tak berarti. Ah biarlah. Tak ada salahnya menyimpan rasa suka sendiri.
“Ren, mau minum apa?” Tanyanya membuyarkan curhatan piluku.
“Eh? Es teh manis aja.” Jawabku dengan cepat –dan gugup.
“Seriusan mau es? Ini lagi hujan lho.” Tanyanya kembali memastikan.
“Kalo gitu es tehnya di angetin aja,” Aku makin ngawur.
Dia tertawa mendengar perkataan polosku. Dan aku setengah mati malu karenanya. Namun, demi melihat tawa yang khas itu, kedua ujung bibirku terangkat membentuk sebuah simpul. Ada ketenangan tersendiri saat melihatnya seperti itu.
“Kayaknya kamu lagi demam deh, Ren.” Ucapnya sembari memegang keningku dan kembali tertawa.
Deg. Seketika sengatan aneh menjalar ke seluruh tubuhku. Sengatan itu menyentrum dan terasa hangat. Tak lama kemudian aku mengetahui kehangatan itu bersumber dari telapak tangannya. Dan sentruman itu berasal dari sentuhan fisik yang sangat tiba-tiba. Ini pertama kalinya aku bersentuhan fisik dengannya. Dan mengapa ini harus nyaman sekali? Dia hanya menyentuh keningku namun mengapa aku merasa sangat bahagia? Ah demi merasakan kehangatan ini lagi akan ku pastikan kamu menjadi milikku. Pasti!
November 2012
Sebelumnya di Agustus hujan masih malu-malu menampakkan dirinya. Namun kini setelah memasuki November hujan lebat tak segan-segan membungkus kota walau seharian penuh. Begitu juga dengan rasa ini yang semakin lama semakin lebat. Namun ia tidak.
Harapan dan tekad yang aku bulatkan sewaktu di warung kopi waktu itu kian hari kian memudar. Seperti debu yang hilang karena hujan. Bagaimana tidak? Sampai sejauh ini tak pernah ada tanda-tanda bahwa ia memiliki perasaan yang sama. Cinta ini semakin menyetujui fakta bahwa ia hanya bertepuk sebelah tangan. Dan dengan harapan yang masih tersisa sebesar biji sawi, aku ingkari itu. Suatu saat dia pasti akan menyadari perasaan ini dan menjadi milikku. Yeah pasti.
12 November 2012
Tak tahan lagi kalbu dirundung pilu, akhirnya kuyakinkan diri untuk bangkit. Walau satu langkah tak mengapa asalkan ada perubahan.
Hingga pada suatu siang di sekolah hujan mengguyur dengan deras. Sama seperti sebelumnya aku selalu menyukai hujan. Karena hujan selalu membuat aku dan dia terjebak di tempat yang sama. Namun bedanya saat itu bukan hanya ada kami berdua. Masih ada tiga teman kami yang sama-sama menunggu hujan reda di dalam kelas.
Setelah mencuri-curi pandang dan yakin dia menghadap depan, aku putuskan untuk bertindak. Suasana aku atur sesantai mungkin hingga tidak terlihat seperti sebuah kesengajaan. Dengan perlahan aku pin mendekati papan tulis lalu menuliskan sesuatu disana.
Aku menyukai salah seorang lelaki di sekolah ini
Itulah yang aku tulis. 5 detik kemudian aku menyesali perbuatan bodoh itu. Terlebih lagi saat melihat dia diam dan tak merespon apapun. Oh! Ingin rasanya segera ku cari lubang dan bersembunyi di sana. Namun semua sudah terlambat. Semua orang yang berada di kelas itu –kecuali dia- bertanya-tanya siapa orang yang kumaksud. Lebih parahnya hal itu dijadikan candaan oleh mereka. Bahkan ada yang mengira bahwa orang yang kumaksud adalah abang-abang tukang cilok di kantin sana. Atau si Jupri lelaki paling gembrot di sekolah. Oh! Habis sudah aku. Tak tahu lagi harus di mana menaruh wajah ini. Dengan sisa tenaga yang aku miliki, aku kembali melihatnya. Dia tengah menghadap keluar jendela sembari menikmati hujan dengan khidmatnya. Seakan tak peduli ada hati yang mati-matian mengharapkannya di sini.
Desember 2017
Kini kenangan tentang cinta bertepuk sebelah tangan itu terletak jauh di belakang. Cinta masa SMP yang membuatku hampir trauma mengenal kata cinta.
Sewaktu SMA masa remajaku hanya aku habiskan dengan sendiri atau yang biasanya disebut Jomblo Happy –padahal nyatanya tidak. Dan sekarang, aku sudah beranjak menjadi wanita dewasa. Meski baru berada di tahun pertama kuliah aku sudah mulai menata masa depan. Namun untuk masalah pendamping hidup tidak. Biarlah itu menjadi urusan Tuhan. Aku hanya perlu menjadi pemain yang baik dalam setiap skenario-Nya. Walaupun kita sebagai umat manusia dianjurkan bahkan diperintahkan untuk mencari, namun luka itu seperti jeruji besi yang mengikatku. Karena tak bisa aku pungkiri hingga saat ini aku masih m-e-n-c-i-n-t-a-i-n-y-a.
Hingga suatu keajaiban terjadi. Atau itu adalah sebuah kebetulan. Atau bahkan takdir.
Setelah 3 tahun lamanya aku tidak melihatnya, hari ini, di depan meja ini, dia tengah duduk dengan khusyuknya mendengarkan penjelasan dosen. Orang yang selama ini berhasil mengusik hari-hariku, menaruh cinta dan kemudian menabur luka, satu kampus denganku. Tentu saja itu adalah sesuatu yang patut aku syukuri. Namun di sisi lain aku membenci kenyataan ini. kenyataan bahwa setelah ini aku akan semakin tidak bisa melupakannya. Padahal dulu aku pikir saat kami pisah sekolah sewaktu SMA, aku bisa menghilangkannya seutuhnya dari ingatan –dan hati. Namun belum sempat aku melangkah, ia sudah kembali lagi. Rasa itu pun semakin besar tak terkendali. Apalagi kami satu jurusan dan mau tidak mau setiap hari aku akan selalu bertemu dengannya.
Luka dan harapan tak ubahnya seperti pinang dibelah dua. Semakinku kecewa karena cinta yang tak terbalas, di situ pula aku semakin yakin bahwa aku akan bisa membuatnya jatuh hati. Bodoh memang. Cinta sudah sepenuhnya mengambil alih atas diriku. Ia tak memperdulikan luka yang menganga lebar karena kisah dulu. Namun kini ia meyakinkan dengan sejuta harapan baru.
Alhasil akupun mengikuti kehendak cinta. Berbekal secercah harapan itu aku kembali melakukan aksi seperti dulu. Tapi kali ini aku tidak melakukannya dengan mencuri-curi pandang atau menuliskan hal konyol di papan tulis. Kunyatakan semuanya dengan terang namun samar. Berharap ia bisa menangkap apa maksud hati. Dan hasilnya pun tak terlalu mengecewakan. Kini ia tak melihatku sebagai sebatas teman saja. Walaupun secara tidak langsung ia kerap kali memuji penampilanku atau kinerjaku saat satu kelompok dengannya. Ah, semoga semuanya berjalan sesuai rencana dan do’a.
24 Desember 2017
Suatu hari hujan Desember membasahi kota. Melumpuhkan keinginan orang-orang yang ingin berpergian kesana-kemari. Juga melumpuhkan niatku untuk segera kembali ke rumah dan beristirahat sepenuhnya. Di sini, di depan gerbang kampus ini mau tak mau aku harus menunggu hujan dengan setianya. Melihat sepasang kekasih berlarian menikmati rintik hujan dengan tas yang dijadikan sebagai payung. Alangkah bahagianya jika aku bisa seperti itu.
Benar kata orang. Do’a dikala hujan memang cepat dikabulkan Tuhan. Lihatlah, di seberang sana aku melihat dia dengan sebuah payung di tangannya. Aku terkesima begitu juga dengan hati yang meletup-letup kegirangan. Apakah ini ending dari kisah cinta sepihak itu? Apakah ini saatnya? Ya!!! Aku bersorak senang dalam hati. Bersama dengan senyuman yang kian mengembang saat dia kian mendekat.
“Hai, Ren. Mau pulang ya?” Tanyanya dengan senyum ramah.
“Ah iya nih, mau pulang, tapi hujan.”
“Kamu ngapain balik lagi?” Tanyaku basa-basi. Padahal aku sudah tahu apa maksud kedatangannya.
“Aku kesini mau jemput dia.” Jawabnya sembari memegang tangan seorang wanita yang sedari tadi berada di sampingku.
“Kenalin dia Luna. Tunanganku.”
Seharusnya aku sudah tahu. Hujan tetaplah hujan. Kapanpun ia hadir ia akan tetap terasa dingin. Tak pernah hangat. Seperti hatinya yang tak pernah bisa aku rubah.
- SELESAI

Komentar
Posting Komentar