Embun, Hujan, dan Kita
Mentari. Seakan menjadi sesuatu yang terpatri indah di relung hati. Guratan sinarnya membawa banyak arti. Seperti kenangan di pagi itu.
Aku berkedip menatap layar ponselku. Dua message dan 1 panggilan tak terjawab. Ah, ini pasti dari dia.
“Cepat bangun atau kau akan melihat kekasihmu ini habis disantap nyamuk!”
Aku terkekeh membacanya. Dia selalu manja seperti biasa. Dan di pagi hari yang bisa terbilang sangat pagi ini aku yakin di sana ia sedang menunggu sembari menggerutu dengan wajah menggemaskannya.
Memang tak terlalu sering namun berjalan berdua dikala fajar merupakan hobi kami. Mungkin orang lain menyebutnya kencan atau apa aku tak peduli. Asalkan bersama dia aku selalu menyebutnya ‘bahagia’.
“Dimana nyamuknya?” “Sudah kusuruh pergi. Aku bilang jangan menampakkan diri di depan orang ini karena Ia sangat kejam. Kejam hingga bisa membuatmu tersiksa karena rindu. ” Jawabnya dengan senyum lebar. Ia selalu bisa membuatku luluh.
“Oh ya? Memangnya ada orang yang tersiksa karena rindu?” Aku bertanya berpura-pura tak tahu. Dia tak langsung menjawab namun memilih untuk menatapku dengan dalam.
“Ada. Dia adalah orang yang saat ini sedang melihat masa depannya dalam matamu.”
Oh god please! Teriakku dalam hati. Aku berterima kasih kepada mentari yang mampu menyembunyikan warna merah pada wajahku.
“Namun orang yang tersiksa rindu itu sebentar lagi akan pergi. Untuk sebentar saja. Aku tak tahu akan jadi apa dia karena rindu. Mungkin gila.”
Aku terdiam. Aku tahu lambat laun ia akan membahas hal ini. Namun bisakah untuk saat ini ia melupakan semua itu? Aku masih ingin menikmati sejuknya embun bersamanya. Menikmati hawa dingin subuh yang menerpa tubuh. Juga menikmati setiap sajaknya yang selalu membuatku gila.
“Hei. Kenapa hanya diam saja?” Aku tak menjawab. Butiran air mataku memilih untuk menjawab semuanya.
“Dasar bocah.” Desisnya. Sebuah kehangatan kini menyelimuti tubuhku. Dia memelukku. Aku bisa merasakan bagaimana ia juga tak ingin pergi. Seperti halnya hati ini yang terus meronta tak ingin ditinggal sendiri.
“Hanya sebentar saja. Sebentar. Setelah itu kita akan bertemu lagi untuk berjuta-juta kalinya sampai matahari merasa letih untuk bertemu dengan bulan. Okay?”
Aku mengeratkan tanganku kemudian membenamkan wajah pada dadanya. Berharap ia tahu bahwa aku sangat menyayanginya.
“Kapan kau kembali?”
“Sampai aku merasa siap untuk bersanding denganmu.” Jawabnya dengan senyuman. Senyum yang paling manis abad ini kurasa.
Pagi itu dengan tetes embun dan semburat mentari menjadi saksi, sebuah janji terikat tanpa disadari.
***
Hujan. Mungkin bagi sebagian orang hujan membawa kenangan, namun bagiku setiap tetesnya membawa luka. Luka yang membuat candu. Karena aku tahu setelah luka itu akan ada pelangi yang menunggu. Yeah semoga saja.
“Berpeganglah. Atau kau akan hanyut dibawa hujan.” Pintanya.
Sore itu hanya gerimis yang melanda. Laju motornya juga ia jalankan dalam keadaan sedang. Tapi bagaimana dengan kalbu? Ada ruang yang pilu disana. Ada sesuatu yang berkecamuk disana. Karena setelah gerimis ini akan ada hujan besar yang menunggu. Semoga saja kau dan aku kuat menjalaninya.
“Sampai di sini?”
“Tentu saja. Aku tak berani mengantarmu sampai dalam kamar.” Dia tertawa kecil. Aku tak yakin ia tahu maksudku apa.
“Dan tentu saja itu tidak akan berhenti di sini. Tunggu aku.” Dia kemudian pergi setelah sebelumnya mengelus lembut kepalaku dan mengecup keningku singkat. Dari kejauhan punggungnya kian mengecil dalam hujan besar.
Semoga kau tidak ditelan badai di tengah perjalanan.
SELESAI -
Lombok Timur, 7 November 2017

Komentar
Posting Komentar