Kisah Si Pria Tua

Hening dan sepi.
Inilah kehidupanku. Jauh dari ramainya celotehan warga dan bisingnya lalu lintas ibukota.
      Di ujung jalan di pedalaman desa, di sebuah gubuk tua, aku tinggal seorang diri. Sebenarnya tidak terlalu sendiri. Karena aku masih punya Billy, Donald, Make, dan Stevanie. Iya mereka adalah hewan peliharaanku. Salah satu dari mereka adalah kecoa. Namun jika menyangkut kata setia aku rasa mereka jauh lebih baik dari manusia.
       Masalah perut aku tak perlu khawatir. Karena di belakang gubuk ini aku mempunyai lahan yang luas dengan beraneka ragam sayuran tumbuh di atasnya. Setiap hari 2 anjing, bebek, serta kucing selalu menemaniku bekerja di ladang. Si kecoa tidak ikut, takut sama pestisida katanya.         
       Kemudian pada waktu malam aku memasak seorang diri. Soup untuk satu porsi dan memakannya di meja makan dengan satu kursi. Dan di sinilah aku terjebak oleh rasa yang membelenggu. Rasa yang setiap malam selalu menghampiri seperti bulan yang menggantikan mentari. Rasa yang membuat aku berpikir bahwa akulah manusia yang tak berarti. Jika memang berarti, lantas mengapa aku selalu sendiri? persetan dengan hewan-hewan itu! Karena jauh di lubuk hati aku selalu merasa sepi.
       Kini pikiranku kembali melayang pada ingatan yang menyesakkan. 25 tahun silam saat aku masih bahagia-bahagianya menikmati pucak kejayaan dari hasil kerja keras. Saat aku masih merasa sempurna dilengkapi oleh istri yang cantik dan seorang puteri yang menggemaskan. Saat itu aku berpikir bahwa hidupku sudah sampai pada episode terakhir dengan happy ending yang memuaskan. Namun nyatanya aku salah. Tak lama kemudian aku mengalami kerugian yang sangat besar dalam proyek raksasa. Lebih tepatnya aku ditipu. Hanya dalam hitungan menit hidupku berubah 180’, semua lenyap tak tersisa.
       Sama halnya dengan harta, istri dan anakku juga menjauhiku. Seperti kata pepatah sudah jatuh tertimpa tangga pula. Yeah mungkin itu adalah kalimat yang pantas untukku saat itu. Tak menerima suaminya jatuh miskin dalam sekejap, istriku -Desti kemudian pergi dengan membawa si malaikat kecil. Sakit, rasanya seperti ribuan pisau menancap di kalbu. Mungkin jika aku bersikeras meyakinkan Desti dan memegang erat tangan mungil puteriku, rasa sakit itu tidak akan terlalu menghujam. Namun yang aku lakukan hanyalah mematung dengan senyum kecut. Berlinang air mata bahkan tidak. Semuanya terlalu mendadak untuk menjadi nyata.
       Hingga akhirnya aku sadar apa yang sebenarnya terjadi. Saat itu Tuhan tengah menyapaku. Menyapa seorang hamba yang tidak pernah bersyukur atas nikmat-Nya. Menyapa seorang hamba yang selalu terbutakan oleh urusan dunia. Alhasil, Tuhan pun turut menjauhiku. Dan inilah masa yang paling menyakitkan. Aku merasa seperti berada jauh di dasar laut dengan kegelapan yang menyelimuti. Bahkan setitik cahaya tak kunjung aku dapatkan. Dingin. Gelap. Hampa. Semua itu menyatu menjadi satu dalam raga yang berlumuran dosa.
       Itulah karma-Nya. Sesuatu yang sangat pedih daripada kehilangan harta. Sesuatu yang sangat memilukan daripada kehilangan sosok istri dan seorang puteri. Hingga butuh bertahun-tahun lamanya untuk mendekatkan diri kembali pada-Nya. Berharap bisa melihat kembali cahaya itu, meskipun remang tak apa. Dan lihatlah, rupanya masih ada kata ampun untuk hamba yang hina. Di sini, di gubuk tua dengan sawah yang menguning dan pohon-pohon yang berdampingan. Aku bisa menghabiskan masa tua dengan tenang sembari memuja-Nya. Menikmati inci demi inci keindahan ciptaan-Nya diusiaku yang sudah menginjak 65.
       Namun tetap saja! Saat malam tiba dan ketika rembulan mulai memperlihatkan pesonanya, aku selalu diam termangu di balik jendela. Merutuki kisah hidup yang teramat monotone di dalam hati. Dan berandai-andai dengan takdir yang lebih baik. Namun sampai kapan aku harus seperti ini? Apakah sampai malaikat maut mengetuk pintu rumah aku akan tetap seperti ini? Terjebak dalam ruang penyesalan dan takdir Sang Maha Kuasa? Entahlah… aku rasa Dia lebih berhak atas hal ini.
       Sampai akhirnya aku tersadarkan akan suatu hal yang tidak pernah aku sadari. Jawaban atas semua pertanyaanku. Yeah ternyata jawaban itu selama ini berada di dekatku. Sangat dekat, hingga hampir tak ada jarak yang memisahkan antara aku dengannya. Betapa bodohnya aku yang baru mengetahui hal ini sekarang. Otak ini hanya aku habiskan dengan mengeluh dan merutuk, tak pernah ku pakai untuk berpikir. Hingga tanpa disadari jawaban yang aku cari selama ini ternyata berada disekitarku. Jawaban yang akan membuatku tak merasa hampa dan sendiri lagi. Semoga saja.
       Setelah menyadari hal itu, dengan tergesa aku menuju kamar kemudian membuka pintu dengan kasar. Disana, di sudut kanan dekat dinding aku mendapatkan apa yang aku cari. Jawaban itu ada disana. Aku mendekatinya perlahan dengan perasaan yang mulai menyeruak. Aku mengamatinya dengan seksama. Lihatlah, ini yang aku cari. Seorang teman yang aku butuhkan untuk mengusir sepi ternyata selama ini berada di sekitarku. Lihatlah, saat aku tersenyum ia ikut tersenyum. Saat menangis pun ia turut mengeluarkan air mata. Ah, apa yang lebih indah dari memiliki orang seperti ini? Seseorang yang bisa diajak senang maupun susah. Seseorang yang tetap menemani dalam suka maupun duka. Dengan hati yang berbunga-bunga, aku putuskan untuk menghabiskan masa tua dengannya.
       Sejak saat itu aku selalu bersamanya. Makan bersama, melihat bulan bersama, dan merenungi nasib bersama. Namun sudah beberapa waktu ini aku tidak melihatnya. Saat bekerja di ladang pun ia tak berada di sampingku. Ada apa gerangan? Merasa resah aku kemudian memutuskan untuk mencarinya.
       Dengan topi yang masih bertengger di kepala dan sepatu bot yang menghias kaki, aku setengah berlari menuju rumah. Rupanya ia juga tidak berada di teras. Aku membuka pintu dengan tergesa berharap bisa menemukannya di ruang tamu. Namun nihil ia tak ada. Aku mulai kalut, perasaanku tak karuan seiring langkah. Setiap sudut rumah telah aku cari tapi sosoknya tak kunjung aku temukan.
       Ah iya, aku jadi teringat dimana pertama kali aku menemukannya. Dengan senyum merekah aku menuju kamar kemudian membuka pintunya dengan kasar. Lihatlah ternyata aku benar. Disana, di sudut kanan dekat dinding ia berada. Dari balik benda persegi panjang aku melihatnya. Dia tengah tersenyum dengan topi yang bertengger di kepala dan sepatu bot yang menghias kaki.

- Selesai    


Komentar

Postingan Populer